Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

hki@iainmadura.ac.id

Tuffatul Masruroh, Mahasiswi HKI UIN Madura, Raih Top Three Best Group di International Conference Santri Mendunia

  • Diposting Oleh Admin Web HKI
  • Selasa, 11 Agustus 2026
  • Dilihat 157 Kali
Bagikan ke

Kuala Lumpur, Malaysia, 8 Agustus 2026 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Madura di kancah internasional. Tuffatul Masruroh, mahasiswi Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syariah, berhasil meraih Top Three Best Group dalam rangkaian kompetisi International Conference Santri Mendunia (ICSM) yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 8 Agustus 2026.

Pencapaian tersebut diraih melalui kompetisi kelompok yang terdiri atas dua rangkaian kegiatan, yakni debat dan Focus Group Discussion (FGD). Dalam sesi debat, Tufatul Masruroh dipercaya sebagai pembicara kedua yang bertugas memperkuat konstruksi argumentasi tim sekaligus memberikan respons terhadap argumentasi yang disampaikan pihak lawan.

Pada sesi debat, peserta dihadapkan pada tema “This House Believes That Labeling Tech-Induced Mental Health Crises in Modern Muslim Youth Merely as a ‘Lack of Faith’ is Highly Destructive.” Tema tersebut mengangkat persoalan krisis kesehatan mental yang dialami generasi muda Muslim di tengah perkembangan teknologi, khususnya mengenai dampak negatif apabila persoalan tersebut semata-mata dilabeli sebagai akibat dari “kurangnya iman”.

Dalam penyampaian argumentasinya, Tufatul menegaskan bahwa krisis kesehatan mental tidak dapat disederhanakan hanya sebagai persoalan keimanan. Menurutnya, persoalan tersebut merupakan fenomena kompleks yang melibatkan berbagai faktor, termasuk aspek psikologis, sosial, lingkungan, serta perkembangan teknologi.

Ia juga menyoroti bahwa pelabelan terhadap individu yang mengalami krisis kesehatan mental sebagai seseorang yang “kurang iman” dapat melahirkan stigma dan victim blaming. Alih-alih memperoleh dukungan dan pertolongan, individu tersebut justru berpotensi merasa dihakimi secara moral. Kondisi ini pada akhirnya dapat membuat seseorang semakin enggan mencari bantuan yang dibutuhkan.

Dalam argumentasinya, Tufatul tidak menafikan pentingnya nilai-nilai keislaman dalam kehidupan generasi muda Muslim. Sebaliknya, ia menekankan bahwa nilai keislaman perlu ditempatkan secara proporsional dan konstruktif dalam menghadapi persoalan kesehatan mental. Pendekatan terhadap persoalan tersebut, menurutnya, perlu mempertimbangkan berbagai dimensi secara multidisipliner, bukan hanya dari satu sudut pandang.

Sebagai mahasiswi Program Studi Hukum Keluarga Islam, Tuffatul turut membawa perspektif keislaman yang dipadukan dengan pendekatan hukum dan sosial dalam membangun argumentasinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa keilmuan Hukum Keluarga Islam memiliki ruang yang luas untuk merespons berbagai persoalan kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk isu kesehatan mental generasi muda dan dampak perkembangan teknologi terhadap kehidupan sosial dan keluarga.

Kompetisi dalam rangkaian International Conference Santri Mendunia tersebut dinilai oleh tiga juri yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Kehadiran juri dari tiga negara tidak hanya memberikan pengalaman kompetisi lintas negara bagi para peserta, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, membangun argumentasi, bekerja dalam tim, serta menyampaikan gagasan secara akademik di forum internasional.

Raihan Top Three Best Group menjadi capaian penting bagi Tufatul Masruroh sekaligus menjadi pengalaman akademik internasional yang memperkaya perjalanan studinya di Program Studi Hukum Keluarga Islam UIN Madura. Prestasi tersebut juga menjadi bukti bahwa mahasiswa HKI mampu mengambil bagian dalam diskursus global dan mengangkat isu-isu kontemporer dengan perspektif keislaman yang kritis, inklusif, dan kontekstual.

Pencapaian Tufatul diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UIN Madura, khususnya mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, untuk terus mengembangkan kemampuan akademik, berpikir kritis, berani berkompetisi, serta berkontribusi dalam forum-forum nasional maupun internasional.