Samara Center UIN Madura Edukasi 200 Santriwati Cegah Kekerasan di Pesantren
- Diposting Oleh Admin Web HKI
- Kamis, 23 Juli 2026
- Dilihat 11 Kali
Samara Center Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Madura menggelar edukasi bertajuk "Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pesantren" di Pondok Pesantren Puncak Darussalam, Pamekasan, pada hari Sabtu, 11 Juli 2026, dengan melibatkan sekitar 200 santriwati. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Samara Center dalam memperkuat budaya pesantren yang aman, ramah anak, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Dr. Hj. Umi Supraptiningsih, S.H., M.Hum. dan H. Muhammad Taufiq, B.Sc., M.Sy., Ph.D., yang membahas pencegahan kekerasan dari perspektif hukum positif dan hukum Islam. Prof. Umi Supraptiningsih menegaskan bahwa pesantren harus memiliki sistem perlindungan yang komprehensif, mulai dari upaya pencegahan, mekanisme pelaporan, pendampingan korban, hingga penguatan literasi digital untuk mengantisipasi kekerasan, termasuk yang terjadi di ruang digital. Menurutnya, seluruh warga pesantren perlu membangun budaya saling menghormati dan berani melaporkan setiap tindakan yang mengarah pada kekerasan.
Sementara itu, H. Muhammad Taufiq menjelaskan bahwa pencegahan kekerasan merupakan implementasi nyata dari maqasid syariah, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Karena itu, segala bentuk kekerasan yang mengancam keselamatan, kesehatan mental, kehormatan, maupun masa depan santri bertentangan dengan tujuan utama syariat Islam.
Ia menambahkan, pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan nilai kasih sayang (rahmah), keadilan ('adl), perlindungan (himayah), dan penghormatan terhadap martabat manusia (karamah al-insan). Melalui nilai-nilai tersebut, pesantren diharapkan mampu membangun budaya pendidikan yang humanis, menyelesaikan konflik secara bijaksana, serta memberikan perlindungan kepada seluruh santri.
Melalui kegiatan ini, Samara Center Fakultas Syariah UIN Madura menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pesantren, pemerintah, dan masyarakat dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Edukasi ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun pesantren yang tidak hanya unggul dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan Islam rahmatan lil 'alamin.